Selasa, 23 Juli 2024

 

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.3 
(Coaching Untuk Supervisi Akademik)

By Sukmawati
CGP Angkatan 10 Jakarta Timur
SMP Negeri 230 Jakarta

Pemikiran Reflektif terkait Pengalaman belajar

Modul 2.3 ini membuat saya lebih memahami apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang coach dalam proses coaching khususnya di bidang Pendidikan. Pendekatan yang digunakan, diawali dengan paradigma  berpikir yang memberdayakan, sehingga proses coaching dapat membuka potensi seseorang dalam memaksimalkan kinerjanya. Proses coaching yang mengayomi dan membimbing menuju kesuksesan ini sesuai dengan prinsip Ki Hajar Dewantara dengan paradigma berpikir among (modul 1.1). Selain itu saya juga dapat membedakan konsep coaching dengan metode pengembangan diri lainnya, seperti monitoring, konseling, fasilitasi, dan training, serta Paradigma berpikir dan prinsip-prinsip (kemitraan, proses kreatif dan memaksimalkan potensi) yang dibutuhkan saat coaching. Kompetensi inti coaching yang terdiri dari kehadiran penuh, mendengarkan aktif, mengajukan pertanyaan berbobot. Teknik yang dapat digunakan adalah mendengar dengan RASA (receive, appreciate, summarize, ask). Dengan menggunakan alur TIRTA ( Tujuan, Identifikasi, Rencana aksi dan Tanggung jawab), kita dapat melakukan coaching dengan berbagai tujuan seperti percakapan untuk perencanaan,  pemecahan masalah, berefleksi dan kalibrasi. Paradigma berpikir coaching ini juga dapat dilakukan dalam kegiatan supervise akademik di sekolah.

Pada awalnya, saya merasa terkejut sekaligus tertarik dan tertantang serta terharu dalam proses menuntaskan materi modul 2.3 ini. Terkejut yang saya rasakan berasal dari keseriusan program dan penyusun materi dalam menyiapkan CGP menjadi pemimpin pembelajaran di masa depan. Terlebih, materi ini adalah hal yang baru bagi saya. Sehingga saya merasa betul-betul banyak belajar dan perlu berlatih agar menjadi lebih baik lagi. Terus terang saya merasa terbebani juga dalam materi ini, mengingat waktu yang sangat sempit dalam mengerjakan tugas serta beban tugas utama saya di tempat saya bertugas. Namun semangat pantang menyerah terus tertanam sehingga membangkitkan semangat untuk menyelesaikan tugas. Saya merasa bahwa ini adalah tantangan yang saya harus jalani untuk menjadi seorang pemimpin pembelajaran yang lebih baik lagi. Saya juga terharu dengan semangat rekan CGP lain yang dengan rela berkumpul dan berkolaborasi dalam menuntaskan tugas modul 2.3 ini. Saya sangat terbantu sehingga terharu. Terima kasih teman-teman.

Dalam proses berlatih dan menyelesaikan tugas modul 2.3 ini, saya merasakan beberapa hal yang sudah dapat saya lakukan dengan baik dan hal yang perlu saya perbaiki. Saya merasa baik dalam memahami perbedaan beberapa metode pengembangan diri. Kompetensi inti coaching seperti kehadiran penuh, mendengar aktif dengan RASA serta menggunakan alur TIRTA. Sedangkan hal yang saya rasa perlu diperbaiki dan dikembangkan adalah dalam hal membuat pertanyaan berbobot sehingga dapat menggali informasi dan mengembangkan potensi dari orang yang dibantu. Selain itu saya juga perlu berlatih dalam hal percakapan dengan tujuan kalibrasi kemampuan.

Materi modul 2.3 ini sangat mendukung peran saya sebagai sorang pendidik dan pemimpin pembelajaran dalam membantu menumbuhkan rasa percaya diri saya sendiri dalam menjalankan nilai dan peran serta visi sebagai Guru penggerak (modul 1.2 dan 1.3). Kompetensi inti coaching juga dapat diterapkan untuk siswa dalam menghadapi permasalahan yang mereka hadapi, serta diterapkan dalam proses supervise akademik membantu rekan-rekan dalam menemukan dan melejitkan potensi diri mereka. Proses coaching yang bersifat individu ini sesuai dengan pembelajaran berdiferensiasi (modul 2.1) yang berfokus pada keunikan individu dalam proses pembelajaran serta membantu pembelajaran Sosial emosional (modul 2.2)

Analisis untuk implementasi dalam konteks Calon Guru Penggerak

Berdasarkan analisis kemampuan, saya merasa perlu untuk mengembangkan kemampuan dalam membuat pertanyaan berbobot serta percakapan kalibrasi. Sehingga muncul pertanyaan sebagai berikut. Bagaimana cara meningkatkan kemampuan membuat pertanyaan berbobot dalam percakapan kalibrasi?

Sebagaimana yang diketahui, pertanyaan berbobot bisa dilakukan melalui mendengar aktif dengan RASA serta kehadiran penuh dalam proses coaching. Dengan denikian saya sudah punya modal yang cukup untuk berlatih membuat pertanyaan berbobot dari kalimat-kalimat yang diungkapkan oleh coachee. Alur TIRTA juga membantu saya sebagai panduan untuk Menyusun pertanyaan berbobot. Namun demikian saya tetap harus hadir penuh dan mendengar dengan RASA agar dapat menangkap kata kunci yang diungkapkan/dikatakan coachee. Sedangkan percakapan kalibrasi merupakan percakapan yang bertujuan untuk menyesuaikan dan mengukur kinerja dengan standar yang telah ditentukan. Dengan demikian pertanyaan berbobot dalam percakapan kalibrasi dapat disesuaikan dengan tujuan tersebut. Melalui alur TIRTA, pertanyaan berbobot dalam percakapan kalibrasi bisa berbentuk menyiapkan mental coachee dengan intensitas yang tepat dalam menghubungkan data (Tujuan). Selanjutnya mengajak coachee menilai hal-hal yang sudah dianggap baik berdasarkan data dan pengamatan serta mencari hal-hal yang masih perlu dikembangkan/diperbaiki lagi. (Identifikasi) Selanjutnya merencanakan aksi nyata berdasarkan hasil pengamatan yang perlu diperbaiki atau yang mau dikembangkan terlebih dahulu sebagai langkah prioritas (rencana aksi). Selanjutnya pertanyaan diarahkan kepada Kesimpulan dan komitmen aksinyata yang akan dikerjakan beserta Langkah antisipasi bila ada perbedaan rencana terkait situasi dan kondisi pada saat dilakukan. (Tanggung jawab).

Tantangan yang akan mungkin muncul berasal dari di saya sendiri, yaitu manajemen waktu yang kurang tertata baik. Kondisi kesehatan yang sedang menurun serta wawasan yang masih sedikit. Selain itu tantangan yang mungkin terjadi adalah kesempatan dalam melakukan coaching teman sejawat serta kerelaanannya dalam proses coaching tersebut. Mengingat kemampuan yang masih terbatas dalam menggali dan melejitkan potensi terbaik rekan sejawat.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai alternatif solusi dari tantangan yang telah diprediksi tersebut. Untuk menajemen waktu bisa dilakukan dengan membuat perencanaan realistis agar dapat diukur dan tercapai dengan baik. Perencanaan yang baik juga dapat mengantisipasi munculnya masalah kesehatan agar tubuh dan pikiran tetap bugar dan prima. Alternatif Solusi lain adalah dengan bekerjasama dengan pimpinan agar dibantu dan difasilitasi agar dapat melakukan proses coaching rekan sejawat

Membuat keterhubungan

Pengalaman dalam melakukan coaching dengan rekat sejawat masih sangat minim sehingga belum banyak pengalaman yang bisa dijadikan praktik baik yang layak. Namun demikian, pengalaman berlatih ini menimbulkan keyakinan bahwa pertanyaan perbobot memang dapat mengarahkan coachee mendapatkan insight baru dalam percakapan proses coaching. Pertanyaan berbobot akan muncul bila coach hadir penuh dan mendengar aktif dengan RASA menggunakan alur TIRTA, tanpa membuat asumsi atau memberi label pada coachee. Pertanyaan berbobot akan muncul bila seorang coach menghadirkan rasa ingin tahu yang mendalam tentang keinginan coachee itu sendiri.

Di masa mendatang, saya merencanakan menggunakan alur TIRTA dalam proses supervisi akademik yang diamahkan kepada saya. Alur TIRTA membantu saya dalam menentukan fase coaching yang sedang berlangsung. Saya akan menggunakan kehadiran penuh dan mendengar aktif dengan RASA untuk menangkap kata kunci yang akan saya dalami dan telusuri sehingga memunculkan potensi dari dalam diri coachee itu sendiri. Agar proses itu berjalan dengan nyaman, tentu perlu diciptakan suasana yang kental dengan nuansa kesetaraan. Proses kreatif yang tercipta dengan pertanyan-pertanyaan berbobot diharapkan dapat memaksimalkan potensi yang ada.

Konsep modul 1.1 mengenai Pemikiran KHD yang mengayomi sangat sesuai dengan Konsep dan praktik baik modul 1.4 mengenai budaya positif sudah diimplementasikan di kelas dan sekolah dengan membuat keyakinan kelas serta menggunakan segitiga restitusi dalam membantu siswa memahami akibat tindak tanduknya dalam bersosialisasi dengan temannya. Praktik baik pembelajaran berdiferensiasi dalam modul 2,1, telah diterapkan dengan dengan berdiferensiasi produk dan proses. Pada pembelajaran diferensiasi produk, siswa diminta untuk membuat produk sebagai wujud pemahaman materi dengan proses yang dikuasainya, seperti membuat puisi, membuat gambar/kartun, membuat paraphrase, main mapping, storytelling dll. Sedangkan dalam pembelajaran berdiferensiasi proses, dilaksanakan dengan melakukan proses diskusi, pembuatan media presentasi, serta praktik presentasi yang berbeda dengan biasanya. Siswa membagi kelompoknya dalam 2 tim, tim presentasi dan tim penilai. Tim penilai akan menilai presentasi yang dilakukan kelompok lain. Sedangkan tim presentasi mempresentasikan hasil diskusi kepada kelompok lain. Dalam mempraktikkan modul 2.2 tentang pembelajaran sosial emosional, saya menerapkan kehadiran penuh dalam proses pembelajaran, juga mengadakan ice breaking pada saat saat diperlukan. Selain itu dengan proses pembelajaran yang bervariasi, saya mencoba untuk melatih keterampilan sosial emosianal siswa saya dalam kesadaran diri, kesadaran sosial, manajemen diri, keterampilan berelasi serta mengambil keputusan yang bertanggung jawab.

Informasi tambahan yang saya dapatkan dari instruktur dan Fasilitator dalam proses memahami coaching adalah pemanfaatan pengalaman yang kita miliki untuk membantu coachee yang mengalami kebuntuan dalam proses coaching. Tentu dilakukan dengan meminta izin dari coachee agar kebuntuannya terbuka melalui pengalaman yang kita miliki.

Demikian Koneksi Antar Materi yang dapat saya sajikan pada artikel ini. Semoga bermanfaat. Terima kasih.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar