KONEKSI
ANTAR MATERI MODUL 2.3
(Coaching Untuk Supervisi Akademik)
By
Sukmawati
CGP Angkatan 10 Jakarta Timur
SMP Negeri 230 Jakarta
Pemikiran
Reflektif terkait Pengalaman belajar
Modul 2.3
ini membuat saya lebih memahami apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang
coach dalam proses coaching khususnya di bidang Pendidikan. Pendekatan yang
digunakan, diawali dengan paradigma
berpikir yang memberdayakan, sehingga proses coaching dapat membuka
potensi seseorang dalam memaksimalkan kinerjanya. Proses coaching yang
mengayomi dan membimbing menuju kesuksesan ini sesuai dengan prinsip Ki Hajar
Dewantara dengan paradigma berpikir among (modul 1.1). Selain itu saya juga
dapat membedakan konsep coaching dengan metode pengembangan diri lainnya,
seperti monitoring, konseling, fasilitasi, dan training, serta Paradigma
berpikir dan prinsip-prinsip (kemitraan, proses kreatif dan memaksimalkan
potensi) yang dibutuhkan saat coaching. Kompetensi inti coaching yang terdiri
dari kehadiran penuh, mendengarkan aktif, mengajukan pertanyaan berbobot.
Teknik yang dapat digunakan adalah mendengar dengan RASA (receive, appreciate,
summarize, ask). Dengan menggunakan alur TIRTA ( Tujuan, Identifikasi, Rencana
aksi dan Tanggung jawab), kita dapat melakukan coaching dengan berbagai tujuan
seperti percakapan untuk perencanaan,
pemecahan masalah, berefleksi dan kalibrasi. Paradigma berpikir coaching
ini juga dapat dilakukan dalam kegiatan supervise akademik di sekolah.
Pada
awalnya, saya merasa terkejut sekaligus tertarik dan tertantang serta terharu
dalam proses menuntaskan materi modul 2.3 ini. Terkejut yang saya rasakan
berasal dari keseriusan program dan penyusun materi dalam menyiapkan CGP
menjadi pemimpin pembelajaran di masa depan. Terlebih, materi ini adalah hal
yang baru bagi saya. Sehingga saya merasa betul-betul banyak belajar dan perlu
berlatih agar menjadi lebih baik lagi. Terus terang saya merasa terbebani juga
dalam materi ini, mengingat waktu yang sangat sempit dalam mengerjakan tugas
serta beban tugas utama saya di tempat saya bertugas. Namun semangat pantang
menyerah terus tertanam sehingga membangkitkan semangat untuk menyelesaikan
tugas. Saya merasa bahwa ini adalah tantangan yang saya harus jalani untuk
menjadi seorang pemimpin pembelajaran yang lebih baik lagi. Saya juga terharu
dengan semangat rekan CGP lain yang dengan rela berkumpul dan berkolaborasi
dalam menuntaskan tugas modul 2.3 ini. Saya sangat terbantu sehingga terharu.
Terima kasih teman-teman.
Dalam
proses berlatih dan menyelesaikan tugas modul 2.3 ini, saya merasakan beberapa
hal yang sudah dapat saya lakukan dengan baik dan hal yang perlu saya perbaiki.
Saya merasa baik dalam memahami perbedaan beberapa metode pengembangan diri.
Kompetensi inti coaching seperti kehadiran penuh, mendengar aktif dengan RASA
serta menggunakan alur TIRTA. Sedangkan hal yang saya rasa perlu diperbaiki dan
dikembangkan adalah dalam hal membuat pertanyaan berbobot sehingga dapat
menggali informasi dan mengembangkan potensi dari orang yang dibantu. Selain
itu saya juga perlu berlatih dalam hal percakapan dengan tujuan kalibrasi
kemampuan.
Materi
modul 2.3 ini sangat mendukung peran saya sebagai sorang pendidik dan pemimpin
pembelajaran dalam membantu menumbuhkan rasa percaya diri saya sendiri dalam
menjalankan nilai dan peran serta visi sebagai Guru penggerak (modul 1.2 dan
1.3). Kompetensi inti coaching juga dapat diterapkan untuk siswa dalam
menghadapi permasalahan yang mereka hadapi, serta diterapkan dalam proses
supervise akademik membantu rekan-rekan dalam menemukan dan melejitkan potensi
diri mereka. Proses coaching yang bersifat individu ini sesuai dengan
pembelajaran berdiferensiasi (modul 2.1) yang berfokus pada keunikan individu
dalam proses pembelajaran serta membantu pembelajaran Sosial emosional (modul
2.2)
Analisis untuk implementasi dalam konteks Calon
Guru Penggerak
Berdasarkan analisis kemampuan, saya merasa perlu untuk
mengembangkan kemampuan dalam membuat pertanyaan berbobot serta percakapan
kalibrasi. Sehingga muncul pertanyaan sebagai berikut. Bagaimana cara meningkatkan
kemampuan membuat pertanyaan berbobot dalam percakapan kalibrasi?
Sebagaimana yang diketahui, pertanyaan berbobot bisa
dilakukan melalui mendengar aktif dengan RASA serta kehadiran penuh dalam
proses coaching. Dengan denikian saya sudah punya modal yang cukup untuk
berlatih membuat pertanyaan berbobot dari kalimat-kalimat yang diungkapkan oleh
coachee. Alur TIRTA juga membantu saya sebagai panduan untuk Menyusun pertanyaan
berbobot. Namun demikian saya tetap harus hadir penuh dan mendengar dengan RASA
agar dapat menangkap kata kunci yang diungkapkan/dikatakan coachee. Sedangkan
percakapan kalibrasi merupakan percakapan yang bertujuan untuk menyesuaikan dan
mengukur kinerja dengan standar yang telah ditentukan. Dengan demikian
pertanyaan berbobot dalam percakapan kalibrasi dapat disesuaikan dengan tujuan
tersebut. Melalui alur TIRTA, pertanyaan berbobot dalam percakapan kalibrasi
bisa berbentuk menyiapkan mental coachee dengan intensitas yang tepat dalam
menghubungkan data (Tujuan). Selanjutnya mengajak coachee menilai hal-hal yang
sudah dianggap baik berdasarkan data dan pengamatan serta mencari hal-hal yang
masih perlu dikembangkan/diperbaiki lagi. (Identifikasi) Selanjutnya
merencanakan aksi nyata berdasarkan hasil pengamatan yang perlu diperbaiki atau
yang mau dikembangkan terlebih dahulu sebagai langkah prioritas (rencana aksi).
Selanjutnya pertanyaan diarahkan kepada Kesimpulan dan komitmen aksinyata yang
akan dikerjakan beserta Langkah antisipasi bila ada perbedaan rencana terkait
situasi dan kondisi pada saat dilakukan. (Tanggung jawab).
Tantangan yang akan mungkin muncul berasal dari di saya
sendiri, yaitu manajemen waktu yang kurang tertata baik. Kondisi kesehatan yang
sedang menurun serta wawasan yang masih sedikit. Selain itu tantangan yang
mungkin terjadi adalah kesempatan dalam melakukan coaching teman sejawat serta
kerelaanannya dalam proses coaching tersebut. Mengingat kemampuan yang masih
terbatas dalam menggali dan melejitkan potensi terbaik rekan sejawat.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai alternatif
solusi dari tantangan yang telah diprediksi tersebut. Untuk menajemen waktu
bisa dilakukan dengan membuat perencanaan realistis agar dapat diukur dan
tercapai dengan baik. Perencanaan yang baik juga dapat mengantisipasi munculnya
masalah kesehatan agar tubuh dan pikiran tetap bugar dan prima. Alternatif
Solusi lain adalah dengan bekerjasama dengan pimpinan agar dibantu dan
difasilitasi agar dapat melakukan proses coaching rekan sejawat
Membuat keterhubungan
Pengalaman dalam melakukan coaching dengan rekat sejawat
masih sangat minim sehingga belum banyak pengalaman yang bisa dijadikan praktik
baik yang layak. Namun demikian, pengalaman berlatih ini menimbulkan keyakinan
bahwa pertanyaan perbobot memang dapat mengarahkan coachee mendapatkan insight
baru dalam percakapan proses coaching. Pertanyaan berbobot akan muncul bila
coach hadir penuh dan mendengar aktif dengan RASA menggunakan alur TIRTA, tanpa
membuat asumsi atau memberi label pada coachee. Pertanyaan berbobot akan muncul
bila seorang coach menghadirkan rasa ingin tahu yang mendalam tentang keinginan
coachee itu sendiri.
Di masa mendatang, saya merencanakan menggunakan alur TIRTA
dalam proses supervisi akademik yang diamahkan kepada saya. Alur TIRTA membantu
saya dalam menentukan fase coaching yang sedang berlangsung. Saya akan
menggunakan kehadiran penuh dan mendengar aktif dengan RASA untuk menangkap
kata kunci yang akan saya dalami dan telusuri sehingga memunculkan potensi dari
dalam diri coachee itu sendiri. Agar proses itu berjalan dengan nyaman, tentu perlu
diciptakan suasana yang kental dengan nuansa kesetaraan. Proses kreatif yang
tercipta dengan pertanyan-pertanyaan berbobot diharapkan dapat memaksimalkan
potensi yang ada.
Konsep modul 1.1 mengenai Pemikiran KHD yang mengayomi sangat
sesuai dengan Konsep dan praktik baik modul 1.4 mengenai budaya positif sudah
diimplementasikan di kelas dan sekolah dengan membuat keyakinan kelas serta
menggunakan segitiga restitusi dalam membantu siswa memahami akibat tindak
tanduknya dalam bersosialisasi dengan temannya. Praktik baik pembelajaran
berdiferensiasi dalam modul 2,1, telah diterapkan dengan dengan berdiferensiasi
produk dan proses. Pada pembelajaran diferensiasi produk, siswa diminta untuk
membuat produk sebagai wujud pemahaman materi dengan proses yang dikuasainya,
seperti membuat puisi, membuat gambar/kartun, membuat paraphrase, main mapping,
storytelling dll. Sedangkan dalam pembelajaran berdiferensiasi proses, dilaksanakan
dengan melakukan proses diskusi, pembuatan media presentasi, serta praktik presentasi
yang berbeda dengan biasanya. Siswa membagi kelompoknya dalam 2 tim, tim presentasi
dan tim penilai. Tim penilai akan menilai presentasi yang dilakukan kelompok
lain. Sedangkan tim presentasi mempresentasikan hasil diskusi kepada kelompok
lain. Dalam mempraktikkan modul 2.2 tentang pembelajaran sosial emosional, saya
menerapkan kehadiran penuh dalam proses pembelajaran, juga mengadakan ice
breaking pada saat saat diperlukan. Selain itu dengan proses pembelajaran yang
bervariasi, saya mencoba untuk melatih keterampilan sosial emosianal siswa saya
dalam kesadaran diri, kesadaran sosial, manajemen diri, keterampilan berelasi
serta mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
Informasi tambahan yang saya dapatkan dari instruktur dan
Fasilitator dalam proses memahami coaching adalah pemanfaatan pengalaman yang
kita miliki untuk membantu coachee yang mengalami kebuntuan dalam proses
coaching. Tentu dilakukan dengan meminta izin dari coachee agar kebuntuannya
terbuka melalui pengalaman yang kita miliki.
Demikian Koneksi Antar Materi yang dapat saya sajikan pada
artikel ini. Semoga bermanfaat. Terima kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar