Sabtu, 27 Juli 2024


Jurnal Refleksi Dwi Mingguan – 7
Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik

By Sukmawati
CGP Angkatan 10 Jakarta Timur
SMP Negeri 230 Jakarta


Selama 2 pekan ini saya belajar saya belajar banyak tentang cara melakukan coaching dengan alur TIRTA (Tujuan, Identifikasi, Rencana aksi dan TAnggung jawab) dengan RASA (Receive, Apreciate, Summerize dan Ask). Alur TIRTA ini sangat membantu saya ketika melakukan coaching. Saya jadi paham tahapan yang sedang dilalui dalam proses coaching dan tahapan mana yang perlu dikejar atau diulangi kembali ketika tujuan coaching belum tercapai. Sedangkan RASA merupakan aktifitas dalam rangka mendengar aktif ketika proses coaching sedang berlangsung. Hal ini perlu dilakukan karena seorang coach perlu menggali informasi dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan berbobot setelah mendengar ungkapan-ungkapan coachee secara aktif.

Bagaimana mendengar aktif dengan RASA tersebut? Dalam rangka mendengar aktif, seorang coach perlu menghadirkan dirinya secara utuh dan penuh dalam menangkap emosi, kata-kata penting yang berulang kali disebutkan coachee, mungkin juga intonasi yang dirasa berbeda untuk mengetahui keresahan tersembunyi. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh coach berdasarkan pada ungkapan yang diucapkan oleh coachee itu sendiri. Seorang coach menerima (receive) semua yang diungkapkan coachee, tanpa menimbulkan asumsi, labelling bagi coachee tersebut. Seorang coach juga menghargai (apreciate) apa yang dikatakan coachee selama proses coaching sebagai data berharga yang akan digunakan kembali untuk menggali informasi selanjutnya. Selain itu, seorang coach juga perlu merangkum (summarize) perkataan coachee untuk menghindari perbedaan pandangan ataupun maksud. Dengan demikian, seorang coach dapat bertanya (ask) lebih lanjut dalam menggali potensi yang ingin dikembangkan.

Alur TIRTA dapat dilakukan dalam percakapan coaching dengan berbagai macam tujuan, seperti percakapan untuk perencanaan, pemecahan masalah, berefleksi, maupun untuk kalibrasi. Setiap percakapan mempunyai tujuan yang ingin dicapai, dan tujuan ini harus dinyatakan sendiri oleh coachee dan dibantu oleh pertanyaan dari coach. Selanjutnya, coach menggali informasi dengan cara mengidentifikasi hal-hal yang mengarah pada tujuan tersebut. Sekali lagi, coachee yang melakukan identifikasi melalui menjawab pertanyaan dari coach. Kemudian, coach juga bertanya mengenai rencana aksi yang ingin dilakukan coachee setelah melakukan identifikasi. Semua dilakukan dengan tanya jawab. Coach bertanya dan coachee menjawab. Terakhir, coach bertanya tentang komitmen atau tanggung jawab coachee dalam menjalankan rencana aksinya tersebut.

Proses Coaching ini mengedepankan hubungan kemitraan antara coachee dan coach sehingga keduanya dalam posisi setara tanpa ada rasa senioritas maupun hubungan kepangkatan lainnya. Hal ini diharapkan dapat membuka peluang untuk menggali dan mengembangkan potensi yang dimiliki coachee tanpa ada perasaan tertekan. Prinsip coaching selanjutnya adalah konstruktif yang bertujuan mengembangkan kompetensi individu, juga terencana, reflektif, objektif, berkesinambungan dan komprehensif.

Sebelum melakukan latihan coaching, saya merasakan kegamangan. Apakah saya bisa melakukan coaching ini? karena saya merasa bingung dengan apa yang perlu saya tanyakan kepada coachee. Kebingungan itu kemudian mulai dapat saya atasi dengan menonton video tentang contoh-contoh proses coaching. Selama berlatih melakukan coaching, saya menggunakan pertanyaan yang sama dengan yang ada pada video ataupun materi-materi coaching. Saya merasa terbantu sekali dengan adanya video-video tersebut. Setelahnya, saya juga merasa coaching itu tidak sesulit yang saya bayangkan. Hanya saja saya perlu berlatih mendengar aktif dengan RASA dan membuat pertanyaan berbobot.




Ketika membantu rekan berlatih menjadi coach, saya membawa permasalahan yang nyata dan ingin dibantu untuk dipecahkan. Saat itu saya merasa pertanyan-pertanyaan yang disampaikan oleh rekan saya,adalah pertanyaan yang sama yang saya tanyakan. Namun pertanyaan tersebut mampu menggali ingatan lama saya sehingga muncul kembali dan bisa saya jadikan solusi dalam permasalahan yang saya hadapi. Awalnya saya tidak menyadari hal tersebut, namun kemudian saya merasa lebih baik karena solusi tersebut berasal dari pemikiran saya sendiri dan saya mampu untuk melaksanakannya.

Setelah melalui pembelajaran supervisi akademik dengan paradigma berpikir coaching, saya menyadari bahwa selama ini saya terlalu menggurui rekan sejawat saya. Saya pun menyadari keengganan dari rekan sejawat untuk melakukan masukan yang saya berikan dalam proses observasi. Masukan yang saya berikan adalah hal yang saya dapatkan berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang saya dapatkan selama menjadi guru. Ternyata, memberikan masukan untuk kebaikan bersama belum tentu dianggap sesuatu yang baik untuk dilakukan. Sehingga timbul rasa enggan menerima dan melaksanakan masukan tersebut. Berbeda bila, rencana-rencana tersebut berasal dan keluar dari diri sendiri. Ada perasaan mampu melaksanakannya dan segera berkomitmen dalam menuntaskannya. Selain itu, timbul pula rasa bahagia dan percaya diri karena mampu mencari solusi dalam menyelesaikan masalah ataupun kebimbangan yang dihadapi dengan arahan pertanyaan dari coach.

Setelah berlatih melakukan coaching dengan rekan CGP lain, saya merasa lebih paham dengan proses coaching dan mulai percaya diri untuk melakukannya dengan rekan sejawat di sekolah. Kebetulan saya diberi amanah untuk memimpin program supervisi akademik di sekolah saya. Saya meminta izin kepada kepala sekolah untuk dapat berbagi mengenai proses coaching pada kegiatan supervisi akademik kepada para penyelia atau supervisor yang akan membantu kepala sekolah dalam proses observasi. Alhamdulillah, kepala sekolah mengizinkan dan diberi waktu untuk berbagi mengenai alur TIRTA dan mendengar aktif dengan RASA. Saya Seperti biasa, saya selalu lupa untuk mengambil gambar ketika proses pelaksanaan berbagi tersebut. Untungnya, kepala sekolah sempat mengabadikan momen tersebut.


Rencana saya ke depan adalah membantu rekan sejawat saya dengan melakukan proses coaching dalam supervisi akademik. Selain itu saya juga membantu rekan penyelia dalam melakukan supervisi akademik dengan paradigma berpikir coaching. Saya akan buatkan daftar pertanyaan yang dapat membantu pada proses pra dan paska observasi menggunakan alur TIRTA. Saya mengharapkan proses coaching dalam supervisi akademik ini akan mengembangkan potensi rekan kerja sehingga dapat menciptakan lingkungan sekolah yang menyenangkan untuk tumbuh kembang siswa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar