Jurnal Refleksi Dwi Mingguan – 7
Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik
By Sukmawati
CGP Angkatan 10 Jakarta Timur
SMP Negeri 230 Jakarta
Selama 2 pekan ini saya belajar saya belajar banyak tentang
cara melakukan coaching dengan alur TIRTA (Tujuan, Identifikasi,
Rencana aksi dan TAnggung jawab) dengan RASA (Receive,
Apreciate, Summerize dan Ask). Alur TIRTA
ini sangat membantu saya ketika melakukan coaching. Saya jadi paham
tahapan yang sedang dilalui dalam proses coaching dan tahapan mana yang
perlu dikejar atau diulangi kembali ketika tujuan coaching belum
tercapai. Sedangkan RASA merupakan aktifitas dalam rangka mendengar aktif ketika
proses coaching sedang berlangsung. Hal ini perlu dilakukan karena
seorang coach perlu menggali informasi dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan
berbobot setelah mendengar ungkapan-ungkapan coachee secara aktif.
Bagaimana mendengar aktif dengan RASA tersebut? Dalam rangka
mendengar aktif, seorang coach perlu menghadirkan dirinya secara utuh
dan penuh dalam menangkap emosi, kata-kata penting yang berulang kali disebutkan
coachee, mungkin juga intonasi yang dirasa berbeda untuk mengetahui
keresahan tersembunyi. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh coach berdasarkan
pada ungkapan yang diucapkan oleh coachee itu sendiri. Seorang coach
menerima (receive) semua yang diungkapkan coachee, tanpa
menimbulkan asumsi, labelling bagi coachee tersebut. Seorang coach
juga menghargai (apreciate) apa yang dikatakan coachee selama proses
coaching sebagai data berharga yang akan digunakan kembali untuk menggali
informasi selanjutnya. Selain itu, seorang coach juga perlu merangkum (summarize)
perkataan coachee untuk menghindari perbedaan pandangan ataupun maksud. Dengan
demikian, seorang coach dapat bertanya (ask) lebih lanjut dalam menggali
potensi yang ingin dikembangkan.
Alur TIRTA dapat dilakukan dalam percakapan coaching
dengan berbagai macam tujuan, seperti percakapan untuk perencanaan, pemecahan
masalah, berefleksi, maupun untuk kalibrasi. Setiap percakapan mempunyai tujuan
yang ingin dicapai, dan tujuan ini harus dinyatakan sendiri oleh coachee
dan dibantu oleh pertanyaan dari coach. Selanjutnya, coach
menggali informasi dengan cara mengidentifikasi hal-hal yang mengarah pada
tujuan tersebut. Sekali lagi, coachee yang melakukan identifikasi melalui
menjawab pertanyaan dari coach. Kemudian, coach juga bertanya
mengenai rencana aksi yang ingin dilakukan coachee setelah melakukan
identifikasi. Semua dilakukan dengan tanya jawab. Coach bertanya dan coachee
menjawab. Terakhir, coach bertanya tentang komitmen atau tanggung jawab coachee
dalam menjalankan rencana aksinya tersebut.
Proses Coaching ini mengedepankan hubungan kemitraan
antara coachee dan coach sehingga keduanya dalam posisi setara
tanpa ada rasa senioritas maupun hubungan kepangkatan lainnya. Hal ini
diharapkan dapat membuka peluang untuk menggali dan mengembangkan potensi yang
dimiliki coachee tanpa ada perasaan tertekan. Prinsip coaching
selanjutnya adalah konstruktif yang bertujuan mengembangkan kompetensi individu,
juga terencana, reflektif, objektif, berkesinambungan dan komprehensif.
Sebelum melakukan latihan coaching, saya merasakan
kegamangan. Apakah saya bisa melakukan coaching ini? karena saya merasa bingung
dengan apa yang perlu saya tanyakan kepada coachee. Kebingungan itu
kemudian mulai dapat saya atasi dengan menonton video tentang contoh-contoh proses
coaching. Selama berlatih melakukan coaching, saya menggunakan
pertanyaan yang sama dengan yang ada pada video ataupun materi-materi coaching.
Saya merasa terbantu sekali dengan adanya video-video tersebut. Setelahnya, saya
juga merasa coaching itu tidak sesulit yang saya bayangkan. Hanya saja
saya perlu berlatih mendengar aktif dengan RASA dan membuat pertanyaan
berbobot.
Ketika membantu rekan berlatih menjadi coach, saya membawa
permasalahan yang nyata dan ingin dibantu untuk dipecahkan. Saat itu saya
merasa pertanyan-pertanyaan yang disampaikan oleh rekan saya,adalah pertanyaan
yang sama yang saya tanyakan. Namun pertanyaan tersebut mampu menggali ingatan lama
saya sehingga muncul kembali dan bisa saya jadikan solusi dalam permasalahan
yang saya hadapi. Awalnya saya tidak menyadari hal tersebut, namun kemudian
saya merasa lebih baik karena solusi tersebut berasal dari pemikiran saya
sendiri dan saya mampu untuk melaksanakannya.
Setelah melalui pembelajaran supervisi akademik dengan paradigma
berpikir coaching, saya menyadari bahwa selama ini saya terlalu
menggurui rekan sejawat saya. Saya pun menyadari keengganan dari rekan sejawat
untuk melakukan masukan yang saya berikan dalam proses observasi. Masukan yang
saya berikan adalah hal yang saya dapatkan berdasarkan pengalaman dan
pengetahuan yang saya dapatkan selama menjadi guru. Ternyata, memberikan
masukan untuk kebaikan bersama belum tentu dianggap sesuatu yang baik untuk
dilakukan. Sehingga timbul rasa enggan menerima dan melaksanakan masukan
tersebut. Berbeda bila, rencana-rencana tersebut berasal dan keluar dari diri
sendiri. Ada perasaan mampu melaksanakannya dan segera berkomitmen dalam
menuntaskannya. Selain itu, timbul pula rasa bahagia dan percaya diri karena
mampu mencari solusi dalam menyelesaikan masalah ataupun kebimbangan yang
dihadapi dengan arahan pertanyaan dari coach.
Setelah berlatih melakukan coaching dengan rekan CGP
lain, saya merasa lebih paham dengan proses coaching dan mulai percaya
diri untuk melakukannya dengan rekan sejawat di sekolah. Kebetulan saya diberi amanah
untuk memimpin program supervisi akademik di sekolah saya. Saya meminta izin
kepada kepala sekolah untuk dapat berbagi mengenai proses coaching pada
kegiatan supervisi akademik kepada para penyelia atau supervisor yang akan
membantu kepala sekolah dalam proses observasi. Alhamdulillah, kepala sekolah
mengizinkan dan diberi waktu untuk berbagi mengenai alur TIRTA dan mendengar
aktif dengan RASA. Saya Seperti biasa, saya selalu lupa untuk mengambil gambar ketika
proses pelaksanaan berbagi tersebut. Untungnya, kepala sekolah sempat mengabadikan
momen tersebut.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar