Kamis, 05 September 2024

 Jurnal Refleksi Dwi Pekanan-10
7 September 2024

Sukmawati
CGP Angkatan 10 Jakarta Timur

Dalam 2 pekan ini, kami membahas modul 3.3 yang merupakan modul terakhir dari 10 modul yang dipelajari. Modul 3.3 merupakan modul dengan judul “Pengelolaan Program yang Berdampak  Positif pada Murid”. Modul ini, bertujuan agar CGP dapat merancang, menganalisis program yang terdapat di sekolah, apakah sudah berpihak dan berdampak positif pada murid?

Salah satunya dengan mengedepankan kepemimpinan murid dalam pembelajarannya sendiri. Hal ini dapat dilakukan dengan berdiskusi dengan murid tentang proses pembelajaran yang akan berlangsung. Guru perlu mendengarkan keinginan, gagasan, kebutuhan murid dalam pengambilan keputusan secara kolektif sehingga mempengaruhi hasilnya. (voice)

Guru juga perlu memberikan kesempatan kepada murid untuk memilih cara dan proses mereka belajar, serta bagaimana mereka menunjukkan pemahaman mereka. (choice) Selain itu, murid perlu juga untuk terhubung secara fisik, kognitif, dan sosial emosional dengan apa yang sedang dipelajari. Murid terlibat aktif dan menunjukkan minat dalam proses belajarnya sehingga ia merasa memiliki proses belajarnya tersebut. (ownership)

Kepemimpinan murid dapat berkembang dengan baik dalam lingkungan yang mendukung perkembangannya. Lingkungan tersebut memiliki karakteristik tertentu sebagai berikut;

1.  1. Memberikan kesempatan murid untuk menggunakan pola pikir positif dan merasakan emosi yang positif;

2.   2. Mengembangkan keterampilan murid untuk berinteraksi sosial secara arif dan bijaksana;

3.   3. Melatih keterampilan murid sebagai proses pencapaian akademik dan non akademik;

4.   4. Melatih murid untuk memahami  dan menerima kekuatan diri, sesama dan masyarakat sekitar;

5.   5. Membuka wawasan murid agar mempunyai dan menindaklanjuti harapan, tujuan masa depan;

6.   6. Memberi kesempatan murid untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajarannya sendiri;

7.  7. Menumbuhkan daya lenting dan sikap Tangguh agar dapat bangkit di tengah kesempitan dan kesulitan.

Dalam mengelola program yang berdampak positif pada murid sehingga muncul kepemimpinan murid, diperlukan kemitraan antara sekolah, keluarga dan masyarakat. Hal ini dapat diartikan bahwa semua orang adalah guru, semua tempat adalah sekolah. Dengan demikian dapat diartikan bahwa pendidikan tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah, namun juga di keluarga dan masyarakat. Sehingga perlu adanya Kerjasama antara semua pihak agar tujuan pembelajaran berhasil.

Saya merasa sangat senang karena proses Pendidikan Calon Guru Penggerak Angkatan 10 sudah mendekati masa akhirnya. Namun demikian bukan berarti akhir dari belajar, karena seorang guru pada hakekatnya adalah pembelajar sejati. Saya juga merasa lebih percaya diri untuk melakukan pembelajaran yang berpihak pada murid karena sudah mengetahui ilmu dan melakukan praktik bersama-sama teman calon guru penggerak yang lain. Saya pun merasa mempunyai kekuatan dengan ilmu yang sudah saya dapat dalam Pendidikan Calon Guru Penggerak Angkatan 10 ini untuk tergerak, bergerak, dan menggerakkan.

Pembelajaran yang saya dapatkan adalah bahwa murid dapat mengambil keputusan bagi pembelajarannya sendiri bila diberikan kesempatan, bahkan sejak pendidikan usia dini. Murid bukan merupakan kertas kosong melainkan terlahir dengan ada bakat yang dapat ditebalkan oleh pengalamannya, sehingga mereka dapat mengambil keputusan. Kepemimpinan murid tidak hanya dilakukan dalam kegiatan kokurikuler maupun ekstrakurikuler, melainkan dapat pula dilakukan dalam kegiatan intrakurikuler. Caranya adalah dengan melibatkan murid dalam memilih topik  yang ingin dipelajari, berkolaborasi dengan murid membuat perencanaan pembelajaran, juga melibatkan mereka dalam penilaian untuk menilai diri sendiri, menilai teman, juga dalam hal membuat rubrik penilaian. Namun demikian, program yang berdampak positif pada murid ini memerlukan dukungan dan lingkungan yang kondusif di manapun murid berada atau belajar.

Setelah mempelajari modul 3.3 ini, saya akan merencanakan, menginisiasi dan mengorganisasi program-program yang berdampak positif pada murid sehingga mendorong kepemimpinan murid berbasis data dan bukti. Selain itu saya juga akan menggerakkan dan mendampingi komunitas sekolah untuk bersama-sama mengembangkan dan mewujudkan visi sekolah yang berpihak pada murid dan berlandaskan nilai-nilai kebajikan universal. Saya juga akan berusaha memfasilitasi pelibatan orang tua/wali murid dan masyarakat dalam pengembangan sekolah untuk peningkatan kualitas belajar murid.

Terima kasih.



Sabtu, 24 Agustus 2024

 Jurnal refleksi Dwi Pekanan-9

24 Agustus 2024

Sukmawati
CGP Angkatan 10 Jakarta Timur


Dalam dua pekan teakhir ini, saya belajar banyak hal dalam modul 3.2 tentang Pemimpin  dalam Pengelolaan Sumber Daya. Sekolah diibaratkan sebuah ekosistem yang terdiri dari unsur biotik dan abiotic. Unsur-unsur ini merupakan asset yang dapat dipergunakan untuk pembelajaran dan kegiatan yang menarik. Aset yang dimaksud tidak hanya ada di dalam sekolah, melainkan di lingkungan sekitar sekolah juga. Aset ini di golongkan dalam 7 modal utama Aset, yaitu modal manusia, modal sosial, nilai, norma, networking, modal fisik: bangunan, infrastruktur, modal lingkungan/alam, modal finansial, car acara menghasilkan uang, modal politik, keterlibatan sosial, lembaga pemerintahan, serta modal agama dan budaya.

Selain itu modul ini juga memberikan pencerahan dengan pendekatan berbasis asset, sebagai karakteristik komunitas yang sehat. Pendekatan berbasis asset ini mengutamakan kekuatan daripada kelemahan dalam menganalisis kegiatan ataupun permasalahan. Dengan denikian akan timbul rasa optimis dan semangat dalam menjalankan kegiatan dan mengatasi permasalahan. Sebaliknya bila pendekatan berbasis kekurangan yang dilakukan dalam menganalisis kegiatan maupu masalah, maka yang timbul ada rasa pesimis negative. Sehingga kegiatan tidak jadi dilaksanakan dan permasalhan pun tidak terselesaikan dengan baik. Untuk itu sangat penting bila kita mengedepankan pendekatan berbasis asset dalam pembahasan dan diskusi yang bertujuan mengembangkan sekolah.



Pada pekan ini selain melaksanakan alur MERDEKA modul 3.2, ada pula pendampingan individu serta lokakarya 4. Yang menebalkan kemampuan coaching serta supervise akademik dengan pendekatan coaching pada modul 2.3 yang telah berlalu. Pengajar Praktik dalam hal ini Bu Maheswari, Kepala SD Negeri Pondok Rangon 02, melakukan observasi pengajaran di kelas saya. Pembelajaran tersebut direkam dan dibawa ke dalam lokakarya sebagai salah satu kegiatan supervisi. Materi coaching dan supervise akademik diulang Kembali dalam lokakarya ini sehingga menyegarkan ingatan Kembali serta melatih Kembali kemampuan coaching beserta prinsip-prinsipnya.

Saya merasakan hal yang luar biasa tejadi dalam diri saya. Saya mengetahui asset-aset yang dapat dikelola dalam mengembangkan pembelajaran dan kegiatan di sekolah. Membaca membuat saya mengetahui. Sedangkan diskusi membuat saya lebih mengenali asset dan bisa membedakannya. Dengan difasilitasi oleh bapak Ngadiyono, perasaan saya lebih menguat untuk dapat membedakan fungsi dan kegunaan asset-aset tersebut. Perasaan semangat juga membumbung tinggi dalam hal memanfaatkan asset yang bisa digunakan dalam pembelajaran yang berpihak pada murid. Ditambah dengan elaborasi pemahaman bersama Bapak Surya Herdiansyah, S.H., M.H., membuka wawasan baru yang menebalkan dan menguatkan pemahaman yang sudah ada. Alur MERDEKA ini memang sudah teruji pelaksanaannya, sehingga mampu menebalkan pemahaman dan keterampilan sehingga lebih maksimal lagi hasilnya.

Dalam mempelajari modul 3.2 ini, saya mendapatkan beberapa pembelajaran bermakna. Asset-aset tersebut hanya sebatas asset bila tidak dimanfaatkan untuk pembelajaran. Sehingga dapat disimpulkan, sepenting apapun asset yang ada bila tidak dimanfaatkan dalam pembelajaran hanyalah sekedar asset potensial saja keberadaannya. Inilah pentingnya modal manusia yang dapat memanfaatkan asset yang lain. Sedangkan asset yang lain tidak dapat memanfaatkan modal manusia untuk pembelajaran.

Selain itu pendekatan cara piker berbasis asset membuka wawasan saya. Seperti inilah seharusnya menangani permasalahan yang ada di sekolah. Yaitu dengan cara mengedepankan prasangka baik dan kekuatan yang ada dibnadingkan kelemahan sehingga akan tercipta optimisme dalam membuat kegiatan yang berpihak pada murid.

Setelah mengetahui 7 aset utama, saya akan memanfaatkannya dalam pembelajaran dan kegiatan yang menyenangkan dan berpihak pada muird. Dalam memanfaatkan 7 aset ini maka kita perlu untuk menggunakan cara pikir berbasis asset yang mengedepankan kekuatan dan kesempatan serta peluang yang dapat dimunculkan dalam merancang dan mengelola kegiatan. Sehingga kegiatan yang akan direncanakan akan terealisir dengan baik.

Semoga Pendidikan Indonesia lebih baik lagi dalam melahirkan generasi penerus yang memihak pada kepantingan rakyat pada umumnya,




Selasa, 13 Agustus 2024

 Koneksi Antar Materi Modul 3.1

Pengambil Keputusan Berbasis Nilai -Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin

Sukmawati
CGP Angkatan 10 Jakarta Timur




Setelah melewati tahapan-tahapan pembelajaran sebelumnya, inilah saatnya menarik kesimpulan, berefleksi mengaitkan materi-materi yang sudah dipelajari, baik di dalam modul 3.1. ataupun kaitannya dengan materi di modul lain. Kesimpulan ini dibuat berdasarkan pertanyaan-pertanyaan panduan berikut;

·        Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Ki Hajar Dewantara mempunyai semboyan yang disebut sebagai Pratap Triloka yaitu “Ing ngarso sung tulado, ing masya mangun karso, Tut wuri handayani”. Semboyan ini mempunyai arti “di depan memberi teladan, di tengah membangun motivasi dan di belakang memberikan dukungan”. Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, seorang guru harus dapat menjadi teladan, memberi motivasi dan dukungan kepada murid. Demikian pula ketika harus mengambil keputusan. Keputusan tersebut harus mengandung keberpihakan kepada murid sebagai bentuk dukungan, motivasi kepada murid. Sehingga murid dapat meneladani keberpihakan guru kepadanya.

·        Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita merupakan nilai-nilai yang sudah mewarnai karakter kita dan tercermin dalam perilaku kita. Dengan demikian, setiap nilai-nilai tersebut dapat mempengaruhi prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan. Dalam pengambilan keputusan terdapat 3 prinsip penyelesaian dilema etika, yaitu; Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) dan Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking). Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, akan mempengaruhi prinsip mana dari ketiga prinsip tersebut yang akan kita pilih dalam menghadapi situasi dilema etika.

·        Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.

Ketika materi pengambilan keputusan, bimbingan yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran sangat baik. Kami membayangkan keputusan-keputusan yang selama ini diambil, apakah sudah berpihak pada murid? Apakah telah efektif? Apakah mengandung dilema etika atau bahkan bujukan moral? Kami berlatih menggunakan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Sampai akhirnya kami baru menyadari adanya perbedaan langkah untuk bujukan moral dan dilema etika. Langkah untuk bujukan moral berhenti pada langkah ke-4. Sedangkan untuk keputusan yang mengandung situasi dilema etika berlanjut sampai langkah ke-9.

·        Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan sangat berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya dilemma etika. Seorang guru yang memiliki kesadaran diri akan mampu melakukan pengelolaan diri. Melalui kesadaran diri dan pengelolaan diri, maka akan mampu membangun empati yang meningkatkan kesadaran sosial. Ditambah keterampilan berelasi untuk berkolaborasi dan berdiskusi, maka pengambilan keputusan yang bertanggung jawab akan selalu dilakukan terutama keputusan untuk berpihak pada murid. Pertentangan nilai-nilai dalam dilema etika tidak akan membuat guru tersebut enggan untuk berpihak pada murid. Dengan adanya aspek sosial emosional akan membuat guru membuat keputusan yang bertanggung jawab.

·        Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Nilai-nilai yang dianut oleh seorang pendidik menjadi cermin, sudut pandang dan filter baginya dalam memandang suatu masalah. Sehingga pembahasan studi kasus yang fokus pada moral atau etika, bagi sorang pendidik tentu tidak lepas dari nilai-nilai yang dianutnya. Nilai-nilai tersebut yang menjadi landasan, guru tersebut dalam memecahkan masalah moral/etika.

·        Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Hal ini tidak dapat diragukan lagi, karena pengambilan keputusan yang tepat berarti menetapkan keputusan yang win-win solution. Walaupun pada dasarnya tidak semua pihak dapat merasa diuntungkan, namun tidak juga mengalami kerugian yang besar pada suatu keputusan. Keputusan yang tepat juga dapat membuat semua orang rela dan bersedia untuk mengikuti keputusan tersebut.

·        Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Tantangan-tantangan di lingkungan sekitar untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini adalah ketika keputusan kita ditentang orang lain yang berbeda pandangan. Berargumentasi kepada orang yang tidak mau tahu memang sangat menantang dan sekaligus meresahkan. Lebih menyakitkan lagi banyak orang yang punya pendapat sama dengan kita namun tidak berani menyuarakan. Sehingga keputusan yang dibuat seperti tidak ada yang mendukung.

·        Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Pengambilan keputusan yang kita ambil dapat berpengaruh dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita. Bila kita mendapatkan suatu permasalahan di dalam proses pembelajaran tentu kita mengevaluasi dan merefleksikan kondisi tersebut sehingga kita dapat mengambil keputusan yang berpihak pada murid. Berpihak pada murid artinya adalah memberikan pembelajaran yang memerdekakan murid dengan keputusan-keputusan yang kita ambil. Seorang guru yang memperhatikan kesejahteraan muridnya dalam belajar tentu memahami kondisi yang berbeda di kelasnya. Sehingga dia akan menyesuaikan perbedaan itu agar pembelajaran dapat selaras dengan kebutuhan murid. Pembelajaran terdiferensiasi ini salah satu cara memberikan kemerdekaan dalam belajar.

·        Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Keputusan yang diambil seorang pemimpin pembelajaran tentunya dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya. Contohnya dalam kasus anak yang berasal dari keluarga tidak mampu dan tidak bisa membayar uang iuran studi wisata, datang ke sekolah untuk ikut studi wisata pada hari keberangkatan. Orang tua si anak memohon kepada kepala sekolah agar anaknya diizinkan ikut studi wisata dan berjanji akan mencicil biayanya. Bila kepala sekolah tidak mengizinkan, bagaimana perasaan si anak tersebut yang sudah datang ke sekolah berharap akan pergi studi wisata bersama teman-temannya, kembali ke rumah dengan tangan hampa. Apakah ia akan tetap semangat belajar? Apakah ia akan dapat menghargai gurunya. Pasti ada kekecewaan yang akan membekas pada hati si anak atas keputusan tersebut. Dengan demikian keputusan yang tepat dapat membawa dampak yang besar karena memberikan kesempatan dan mendukung perkembangan anak secara optimal.

·        Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Materi modul 3.1 tentang Pengambil Keputusan Berbasis Nilai -Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin, sangat bermanfaat untuk dipelajari sebagai seorang pemimpin pembelajaran agar tidak terjebak dalam bujukan moral dan mengambil keputusan yang berpihak pada kebaikan murid. Hal ini tentu sesuai dengan filosofi KHD dengan semboyan yang terkenal sebagai Pratap Triloka, bahwa sebagai seorang guru kita harus ngemong dan selalu berpihak pada murid. Nilai-nilai kebajikan yang mewarnai seorang guru dapat mempengaruhi keputusan yang diambil karena nilai-nilai positif menjadi filter dalam membuat suatu keputusan. Ini ada hubungannya dengan materi budaya positif yang dibiasakan agar nilai-nilai positif itu membudaya di kalangan murid. Selanjutnya, membuat keputusan yang tepat dan tanpa emosional maka kompetensi sosial emosional amat sangat tepat untuk dilakukan. Sehingga keputusan tidak berdasarkan emosi dan nafsu semata, melainkan berdasarkan kesadaran diri kesadaran soal dan pengambil keputusan yang bertanggungjawab. Pengambilan Keputusan yang rumit dapat dibantu dengan melakukan teknik coaching, menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang membuka memori, kesadaran dari kita sendiri.

·        Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Saya merasa pemahaman saya tentang konsep-konsep yang telah saya pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan masih perlu latihan dan latihan. Karena mengambil keputusan yang tepat dan bertanggung jawab amatlah berat dan mengandung risiko yang tidak kecil apabila terdapat situasi tidak menguntungkan bagi siswa. Menurut saya, hal yang di luar dugaan adalah ketika mewawancarai pemimpin pembelajaran. Tidak semua pemimpin pembelajaran dapat mengenal 9 langkah pembuat dan penguji keputusan. Dasar pengambilan keputusan adalah besar/kecilnya risiko yang diterima. Sehingga pengujian keputusan berlandaskan pada analisis risiko. Dengan demikian bisa disimpulkan, bagaimana keputusan-keputusan yang selama ini diambil.

·        Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Sebagai seorang guru, tentu sebelum mempelakajari modul ini, saya telah menerapkan pengambilan keputusan dalam situasi moral dilema. Bedanya dengan setelah saya mempelajari modul 3.1 ini, saya yakin dalam mengambil keputusan yang mengandung moral dilema. Saya sudah bisa membedakan antara dilema moral dan dilema etika. Dilema moral adalah pertentangan nilai yang benar dan yang salah. Tentu kita perlu dan harus berpihak pada yang benar. Sedangkan dilema etika, adalah pertentangan nilai-nilai yang keduanya benar. Sehingga perlu pengujian dan analisis yang mendalam untuk mengambil Keputusan yang bertanggung jawab.

·        Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Dampak mempelajari konsep  ini buat saya adalah rasa percaya diri bila harus mengambil keputusan baik itu dalam situasi dilema moral maupun dilema etika. Hal ini dikarenakan saya sudah diberi pemahaman tentang kedua macam dilema, 9 langkah cara pengujiannya beserta 3 prinsip dan 4 paradigma dilema etika. Walaupun masih perlu latihan dan berhati-hati dalam mengambil keputusan, namun saya memiliki rujukan agar lebih bertanggungjawab.

·        Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

        Mempelajari modul ini sangat penting, karena sebagai seorang individu, kita selalu dihadapkan pada dilema yang mengharuskan kita untuk memilih dan mencari solusi atas situasi yang sedang terjadi dalam kehidupan ini. Belum selesai dilema 1, maka datang dilema yang lain. Sehingga kita bisa merasa terbebani bila tidak ada pengetahuan untuk membuat keputusan. Apalagi sebagai seorang pemimpin, keputusan yang kita ambil bisa berdampak luas bagi orang banyak di lingkungan yang kita pimpin. Oleh karena itu, sebagai seorang pemimpin pembelajaran, perlu untuk mempelajari modul ini.

Sabtu, 10 Agustus 2024

 

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan-8
Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan sebagai Pemimpin

 



Sungguh luar biasa materi dalam modul 3.1 ini. Suatu hal yang benar-benar baru dan menambah wawasan dan keterampilan sebagai seorang pemimpin pembelajaran. Dalam mengambil suatu keputusan, seorang pemimpin perlu melalui 9 tahap agar keputusan yang diambil tidak bertentangan dengan hukum dan etika serta benar-benar berpihak pada murid. Di dalamnya terdapat 4  paradigma dilema etika, yaitu individu vs kelompok, kebenaran vs kesetiaan, keadilan vs belas kasihan, dan jangka Panjang vs jangka pendek. Selain itu terdapat pula 3 prinsip pengambilan Keputusan yaitu, berpikir berbasis hasil akhir, berpikir berbasis peraturan, dan berpikir berbasis rasa peduli.

Ketika mengambil keputusan, seorang pemimpin perlu membedakan situasi yang mengandung bujukan moral dan dilema etika. Situasi bujukan moral merupakan pertentangan antara benar dan salah. Sedangkan dilema etika merupakan situasi pertentangan antara nilai-nilai yang mengandung kebenaran. Pada pengujian tahap 4, bila semua pengujian gagal, maka bisa dipastikan bahwa situasi yang dihadapi adalah bujukan moral. Dengan demikian langkah pengujian berikutnya tidak dilaksanakan. Sedangkan bila semua pengujian berhasil, maka situasi yang dihadapi merupakan dilema etika dan langkah pengujian dapat dilanjutkan.

Langkah-langkah pengambilan dan pengujian Keputusan adalah sebagai berikut,

  1. 1.    Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan

    2.      Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.

    3.      Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.

    4.      Pengujian benar atau salah

    a.      Uji Legal

    b.      Uji Regulasi/Standar Profesional

    c.      Uji Intuisi

    d.      Uji Publikasi

    e.      Uji Panutan/Idola

    5.      Pengujian Paradigma Benar lawan Benar

    - Individu lawan kelompok (individual vs community)

    - Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

    - Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

    - Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

    6.      Melakukan Prinsip Resolusi

    Dari 3 prinsip penyelesaian dilema, mana yang akan dipakai?

    - Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

    - Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

    - Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

    7.      Investigasi Opsi Trilema (Solusi lain yang dapat diterima/memungkinkan)

    8.      Buat Keputusan

    9.      Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan

 

Mempelajari modul 3.1 ini, saya merasa sangat bersemangat dengan materi yang luar biasa sekaligus merasa letih kehabisan tenaga. Namun demikian, saya bersyukur masih diberikan kesehatan untuk menyelesaikan modul 3.1 ini dan melaksanakan tugas-tugas yang diberikan. Saya juga terkejut dengan 9 langkah pengambilan dan pengujian Keputusan. Sedemikian panjang Langkah yang perlu diambil untuk mengambik keputusan yang mengandung dilema etika. Saya juga merasa tahap MERDEKA benar-benar efektif dalam membangun pemahaman dengan baik. Saya juga bersyukur dibimbing oleh instruktur Pak Ngadiyono yang dengan sabar dan terbuka membimbing dan memberikan pencerahan  saya juga sempat merasa kalang kabut ketika harus mewawancarai 2 kepala sekolah. Pada akhirnya, di tengah kesibukan para pemimpin tersebut, saya dapat mewawancarai mereka.

 



Setelah mempelajari modul 3.1 ini, saya menyadari bahwa menjadi pemimpin itu tidak semudah yang dibayangkan. Di tangan seorang pemimpin, semua keputusan diambil dan dijalankan, sehingga keputusan-keputusan seorang pemimpin sangat mempengaruhi kondisi lingkungan yang dipimpinnya. Saya juga menyadari bahwa tidak mudah untuk mengambil keputusan karena, setiap keputusan tidak bisa menyenangkan semua pihak. Dengan demikian semua keputusan mengandung resiko. Seorang pemimpin harus berani menanggung resiko untuk berpihak pada murid.

Selanjutnya, saya akan terus berlatih untuk bisa membedakan situasi antara bujukan moral dan dilema etika. Selain itu saya juga perlu berlatih untuk memutuskan prinsip penyelesaian dilema yang perlu diambil dalam mengambil keputusan. Selanjutnya, sebagai pemimpin pembelajaran saya juga perlu berlatih dan terus berlatih agar keputusan yang mengandung unsur dilema etika dapat dicari opsi trilemma dengan baik. Untuk dapat membuat keputusan terbaik, saya juga prlu untuk melaksanakan keterampilan sosial emosional agar tidak mengambil keputusan di saat sedang marah sehingga merugikan semua pihak.

Demikian jurnal refleksi dwi pekanan-8 ini, semoga dapat bermanfaat. Terima kasih.



Sabtu, 27 Juli 2024


Jurnal Refleksi Dwi Mingguan – 7
Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik

By Sukmawati
CGP Angkatan 10 Jakarta Timur
SMP Negeri 230 Jakarta


Selama 2 pekan ini saya belajar saya belajar banyak tentang cara melakukan coaching dengan alur TIRTA (Tujuan, Identifikasi, Rencana aksi dan TAnggung jawab) dengan RASA (Receive, Apreciate, Summerize dan Ask). Alur TIRTA ini sangat membantu saya ketika melakukan coaching. Saya jadi paham tahapan yang sedang dilalui dalam proses coaching dan tahapan mana yang perlu dikejar atau diulangi kembali ketika tujuan coaching belum tercapai. Sedangkan RASA merupakan aktifitas dalam rangka mendengar aktif ketika proses coaching sedang berlangsung. Hal ini perlu dilakukan karena seorang coach perlu menggali informasi dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan berbobot setelah mendengar ungkapan-ungkapan coachee secara aktif.

Bagaimana mendengar aktif dengan RASA tersebut? Dalam rangka mendengar aktif, seorang coach perlu menghadirkan dirinya secara utuh dan penuh dalam menangkap emosi, kata-kata penting yang berulang kali disebutkan coachee, mungkin juga intonasi yang dirasa berbeda untuk mengetahui keresahan tersembunyi. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh coach berdasarkan pada ungkapan yang diucapkan oleh coachee itu sendiri. Seorang coach menerima (receive) semua yang diungkapkan coachee, tanpa menimbulkan asumsi, labelling bagi coachee tersebut. Seorang coach juga menghargai (apreciate) apa yang dikatakan coachee selama proses coaching sebagai data berharga yang akan digunakan kembali untuk menggali informasi selanjutnya. Selain itu, seorang coach juga perlu merangkum (summarize) perkataan coachee untuk menghindari perbedaan pandangan ataupun maksud. Dengan demikian, seorang coach dapat bertanya (ask) lebih lanjut dalam menggali potensi yang ingin dikembangkan.

Alur TIRTA dapat dilakukan dalam percakapan coaching dengan berbagai macam tujuan, seperti percakapan untuk perencanaan, pemecahan masalah, berefleksi, maupun untuk kalibrasi. Setiap percakapan mempunyai tujuan yang ingin dicapai, dan tujuan ini harus dinyatakan sendiri oleh coachee dan dibantu oleh pertanyaan dari coach. Selanjutnya, coach menggali informasi dengan cara mengidentifikasi hal-hal yang mengarah pada tujuan tersebut. Sekali lagi, coachee yang melakukan identifikasi melalui menjawab pertanyaan dari coach. Kemudian, coach juga bertanya mengenai rencana aksi yang ingin dilakukan coachee setelah melakukan identifikasi. Semua dilakukan dengan tanya jawab. Coach bertanya dan coachee menjawab. Terakhir, coach bertanya tentang komitmen atau tanggung jawab coachee dalam menjalankan rencana aksinya tersebut.

Proses Coaching ini mengedepankan hubungan kemitraan antara coachee dan coach sehingga keduanya dalam posisi setara tanpa ada rasa senioritas maupun hubungan kepangkatan lainnya. Hal ini diharapkan dapat membuka peluang untuk menggali dan mengembangkan potensi yang dimiliki coachee tanpa ada perasaan tertekan. Prinsip coaching selanjutnya adalah konstruktif yang bertujuan mengembangkan kompetensi individu, juga terencana, reflektif, objektif, berkesinambungan dan komprehensif.

Sebelum melakukan latihan coaching, saya merasakan kegamangan. Apakah saya bisa melakukan coaching ini? karena saya merasa bingung dengan apa yang perlu saya tanyakan kepada coachee. Kebingungan itu kemudian mulai dapat saya atasi dengan menonton video tentang contoh-contoh proses coaching. Selama berlatih melakukan coaching, saya menggunakan pertanyaan yang sama dengan yang ada pada video ataupun materi-materi coaching. Saya merasa terbantu sekali dengan adanya video-video tersebut. Setelahnya, saya juga merasa coaching itu tidak sesulit yang saya bayangkan. Hanya saja saya perlu berlatih mendengar aktif dengan RASA dan membuat pertanyaan berbobot.




Ketika membantu rekan berlatih menjadi coach, saya membawa permasalahan yang nyata dan ingin dibantu untuk dipecahkan. Saat itu saya merasa pertanyan-pertanyaan yang disampaikan oleh rekan saya,adalah pertanyaan yang sama yang saya tanyakan. Namun pertanyaan tersebut mampu menggali ingatan lama saya sehingga muncul kembali dan bisa saya jadikan solusi dalam permasalahan yang saya hadapi. Awalnya saya tidak menyadari hal tersebut, namun kemudian saya merasa lebih baik karena solusi tersebut berasal dari pemikiran saya sendiri dan saya mampu untuk melaksanakannya.

Setelah melalui pembelajaran supervisi akademik dengan paradigma berpikir coaching, saya menyadari bahwa selama ini saya terlalu menggurui rekan sejawat saya. Saya pun menyadari keengganan dari rekan sejawat untuk melakukan masukan yang saya berikan dalam proses observasi. Masukan yang saya berikan adalah hal yang saya dapatkan berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang saya dapatkan selama menjadi guru. Ternyata, memberikan masukan untuk kebaikan bersama belum tentu dianggap sesuatu yang baik untuk dilakukan. Sehingga timbul rasa enggan menerima dan melaksanakan masukan tersebut. Berbeda bila, rencana-rencana tersebut berasal dan keluar dari diri sendiri. Ada perasaan mampu melaksanakannya dan segera berkomitmen dalam menuntaskannya. Selain itu, timbul pula rasa bahagia dan percaya diri karena mampu mencari solusi dalam menyelesaikan masalah ataupun kebimbangan yang dihadapi dengan arahan pertanyaan dari coach.

Setelah berlatih melakukan coaching dengan rekan CGP lain, saya merasa lebih paham dengan proses coaching dan mulai percaya diri untuk melakukannya dengan rekan sejawat di sekolah. Kebetulan saya diberi amanah untuk memimpin program supervisi akademik di sekolah saya. Saya meminta izin kepada kepala sekolah untuk dapat berbagi mengenai proses coaching pada kegiatan supervisi akademik kepada para penyelia atau supervisor yang akan membantu kepala sekolah dalam proses observasi. Alhamdulillah, kepala sekolah mengizinkan dan diberi waktu untuk berbagi mengenai alur TIRTA dan mendengar aktif dengan RASA. Saya Seperti biasa, saya selalu lupa untuk mengambil gambar ketika proses pelaksanaan berbagi tersebut. Untungnya, kepala sekolah sempat mengabadikan momen tersebut.


Rencana saya ke depan adalah membantu rekan sejawat saya dengan melakukan proses coaching dalam supervisi akademik. Selain itu saya juga membantu rekan penyelia dalam melakukan supervisi akademik dengan paradigma berpikir coaching. Saya akan buatkan daftar pertanyaan yang dapat membantu pada proses pra dan paska observasi menggunakan alur TIRTA. Saya mengharapkan proses coaching dalam supervisi akademik ini akan mengembangkan potensi rekan kerja sehingga dapat menciptakan lingkungan sekolah yang menyenangkan untuk tumbuh kembang siswa.

Selasa, 23 Juli 2024

 

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.3 
(Coaching Untuk Supervisi Akademik)

By Sukmawati
CGP Angkatan 10 Jakarta Timur
SMP Negeri 230 Jakarta

Pemikiran Reflektif terkait Pengalaman belajar

Modul 2.3 ini membuat saya lebih memahami apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang coach dalam proses coaching khususnya di bidang Pendidikan. Pendekatan yang digunakan, diawali dengan paradigma  berpikir yang memberdayakan, sehingga proses coaching dapat membuka potensi seseorang dalam memaksimalkan kinerjanya. Proses coaching yang mengayomi dan membimbing menuju kesuksesan ini sesuai dengan prinsip Ki Hajar Dewantara dengan paradigma berpikir among (modul 1.1). Selain itu saya juga dapat membedakan konsep coaching dengan metode pengembangan diri lainnya, seperti monitoring, konseling, fasilitasi, dan training, serta Paradigma berpikir dan prinsip-prinsip (kemitraan, proses kreatif dan memaksimalkan potensi) yang dibutuhkan saat coaching. Kompetensi inti coaching yang terdiri dari kehadiran penuh, mendengarkan aktif, mengajukan pertanyaan berbobot. Teknik yang dapat digunakan adalah mendengar dengan RASA (receive, appreciate, summarize, ask). Dengan menggunakan alur TIRTA ( Tujuan, Identifikasi, Rencana aksi dan Tanggung jawab), kita dapat melakukan coaching dengan berbagai tujuan seperti percakapan untuk perencanaan,  pemecahan masalah, berefleksi dan kalibrasi. Paradigma berpikir coaching ini juga dapat dilakukan dalam kegiatan supervise akademik di sekolah.

Pada awalnya, saya merasa terkejut sekaligus tertarik dan tertantang serta terharu dalam proses menuntaskan materi modul 2.3 ini. Terkejut yang saya rasakan berasal dari keseriusan program dan penyusun materi dalam menyiapkan CGP menjadi pemimpin pembelajaran di masa depan. Terlebih, materi ini adalah hal yang baru bagi saya. Sehingga saya merasa betul-betul banyak belajar dan perlu berlatih agar menjadi lebih baik lagi. Terus terang saya merasa terbebani juga dalam materi ini, mengingat waktu yang sangat sempit dalam mengerjakan tugas serta beban tugas utama saya di tempat saya bertugas. Namun semangat pantang menyerah terus tertanam sehingga membangkitkan semangat untuk menyelesaikan tugas. Saya merasa bahwa ini adalah tantangan yang saya harus jalani untuk menjadi seorang pemimpin pembelajaran yang lebih baik lagi. Saya juga terharu dengan semangat rekan CGP lain yang dengan rela berkumpul dan berkolaborasi dalam menuntaskan tugas modul 2.3 ini. Saya sangat terbantu sehingga terharu. Terima kasih teman-teman.

Dalam proses berlatih dan menyelesaikan tugas modul 2.3 ini, saya merasakan beberapa hal yang sudah dapat saya lakukan dengan baik dan hal yang perlu saya perbaiki. Saya merasa baik dalam memahami perbedaan beberapa metode pengembangan diri. Kompetensi inti coaching seperti kehadiran penuh, mendengar aktif dengan RASA serta menggunakan alur TIRTA. Sedangkan hal yang saya rasa perlu diperbaiki dan dikembangkan adalah dalam hal membuat pertanyaan berbobot sehingga dapat menggali informasi dan mengembangkan potensi dari orang yang dibantu. Selain itu saya juga perlu berlatih dalam hal percakapan dengan tujuan kalibrasi kemampuan.

Materi modul 2.3 ini sangat mendukung peran saya sebagai sorang pendidik dan pemimpin pembelajaran dalam membantu menumbuhkan rasa percaya diri saya sendiri dalam menjalankan nilai dan peran serta visi sebagai Guru penggerak (modul 1.2 dan 1.3). Kompetensi inti coaching juga dapat diterapkan untuk siswa dalam menghadapi permasalahan yang mereka hadapi, serta diterapkan dalam proses supervise akademik membantu rekan-rekan dalam menemukan dan melejitkan potensi diri mereka. Proses coaching yang bersifat individu ini sesuai dengan pembelajaran berdiferensiasi (modul 2.1) yang berfokus pada keunikan individu dalam proses pembelajaran serta membantu pembelajaran Sosial emosional (modul 2.2)

Analisis untuk implementasi dalam konteks Calon Guru Penggerak

Berdasarkan analisis kemampuan, saya merasa perlu untuk mengembangkan kemampuan dalam membuat pertanyaan berbobot serta percakapan kalibrasi. Sehingga muncul pertanyaan sebagai berikut. Bagaimana cara meningkatkan kemampuan membuat pertanyaan berbobot dalam percakapan kalibrasi?

Sebagaimana yang diketahui, pertanyaan berbobot bisa dilakukan melalui mendengar aktif dengan RASA serta kehadiran penuh dalam proses coaching. Dengan denikian saya sudah punya modal yang cukup untuk berlatih membuat pertanyaan berbobot dari kalimat-kalimat yang diungkapkan oleh coachee. Alur TIRTA juga membantu saya sebagai panduan untuk Menyusun pertanyaan berbobot. Namun demikian saya tetap harus hadir penuh dan mendengar dengan RASA agar dapat menangkap kata kunci yang diungkapkan/dikatakan coachee. Sedangkan percakapan kalibrasi merupakan percakapan yang bertujuan untuk menyesuaikan dan mengukur kinerja dengan standar yang telah ditentukan. Dengan demikian pertanyaan berbobot dalam percakapan kalibrasi dapat disesuaikan dengan tujuan tersebut. Melalui alur TIRTA, pertanyaan berbobot dalam percakapan kalibrasi bisa berbentuk menyiapkan mental coachee dengan intensitas yang tepat dalam menghubungkan data (Tujuan). Selanjutnya mengajak coachee menilai hal-hal yang sudah dianggap baik berdasarkan data dan pengamatan serta mencari hal-hal yang masih perlu dikembangkan/diperbaiki lagi. (Identifikasi) Selanjutnya merencanakan aksi nyata berdasarkan hasil pengamatan yang perlu diperbaiki atau yang mau dikembangkan terlebih dahulu sebagai langkah prioritas (rencana aksi). Selanjutnya pertanyaan diarahkan kepada Kesimpulan dan komitmen aksinyata yang akan dikerjakan beserta Langkah antisipasi bila ada perbedaan rencana terkait situasi dan kondisi pada saat dilakukan. (Tanggung jawab).

Tantangan yang akan mungkin muncul berasal dari di saya sendiri, yaitu manajemen waktu yang kurang tertata baik. Kondisi kesehatan yang sedang menurun serta wawasan yang masih sedikit. Selain itu tantangan yang mungkin terjadi adalah kesempatan dalam melakukan coaching teman sejawat serta kerelaanannya dalam proses coaching tersebut. Mengingat kemampuan yang masih terbatas dalam menggali dan melejitkan potensi terbaik rekan sejawat.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai alternatif solusi dari tantangan yang telah diprediksi tersebut. Untuk menajemen waktu bisa dilakukan dengan membuat perencanaan realistis agar dapat diukur dan tercapai dengan baik. Perencanaan yang baik juga dapat mengantisipasi munculnya masalah kesehatan agar tubuh dan pikiran tetap bugar dan prima. Alternatif Solusi lain adalah dengan bekerjasama dengan pimpinan agar dibantu dan difasilitasi agar dapat melakukan proses coaching rekan sejawat

Membuat keterhubungan

Pengalaman dalam melakukan coaching dengan rekat sejawat masih sangat minim sehingga belum banyak pengalaman yang bisa dijadikan praktik baik yang layak. Namun demikian, pengalaman berlatih ini menimbulkan keyakinan bahwa pertanyaan perbobot memang dapat mengarahkan coachee mendapatkan insight baru dalam percakapan proses coaching. Pertanyaan berbobot akan muncul bila coach hadir penuh dan mendengar aktif dengan RASA menggunakan alur TIRTA, tanpa membuat asumsi atau memberi label pada coachee. Pertanyaan berbobot akan muncul bila seorang coach menghadirkan rasa ingin tahu yang mendalam tentang keinginan coachee itu sendiri.

Di masa mendatang, saya merencanakan menggunakan alur TIRTA dalam proses supervisi akademik yang diamahkan kepada saya. Alur TIRTA membantu saya dalam menentukan fase coaching yang sedang berlangsung. Saya akan menggunakan kehadiran penuh dan mendengar aktif dengan RASA untuk menangkap kata kunci yang akan saya dalami dan telusuri sehingga memunculkan potensi dari dalam diri coachee itu sendiri. Agar proses itu berjalan dengan nyaman, tentu perlu diciptakan suasana yang kental dengan nuansa kesetaraan. Proses kreatif yang tercipta dengan pertanyan-pertanyaan berbobot diharapkan dapat memaksimalkan potensi yang ada.

Konsep modul 1.1 mengenai Pemikiran KHD yang mengayomi sangat sesuai dengan Konsep dan praktik baik modul 1.4 mengenai budaya positif sudah diimplementasikan di kelas dan sekolah dengan membuat keyakinan kelas serta menggunakan segitiga restitusi dalam membantu siswa memahami akibat tindak tanduknya dalam bersosialisasi dengan temannya. Praktik baik pembelajaran berdiferensiasi dalam modul 2,1, telah diterapkan dengan dengan berdiferensiasi produk dan proses. Pada pembelajaran diferensiasi produk, siswa diminta untuk membuat produk sebagai wujud pemahaman materi dengan proses yang dikuasainya, seperti membuat puisi, membuat gambar/kartun, membuat paraphrase, main mapping, storytelling dll. Sedangkan dalam pembelajaran berdiferensiasi proses, dilaksanakan dengan melakukan proses diskusi, pembuatan media presentasi, serta praktik presentasi yang berbeda dengan biasanya. Siswa membagi kelompoknya dalam 2 tim, tim presentasi dan tim penilai. Tim penilai akan menilai presentasi yang dilakukan kelompok lain. Sedangkan tim presentasi mempresentasikan hasil diskusi kepada kelompok lain. Dalam mempraktikkan modul 2.2 tentang pembelajaran sosial emosional, saya menerapkan kehadiran penuh dalam proses pembelajaran, juga mengadakan ice breaking pada saat saat diperlukan. Selain itu dengan proses pembelajaran yang bervariasi, saya mencoba untuk melatih keterampilan sosial emosianal siswa saya dalam kesadaran diri, kesadaran sosial, manajemen diri, keterampilan berelasi serta mengambil keputusan yang bertanggung jawab.

Informasi tambahan yang saya dapatkan dari instruktur dan Fasilitator dalam proses memahami coaching adalah pemanfaatan pengalaman yang kita miliki untuk membantu coachee yang mengalami kebuntuan dalam proses coaching. Tentu dilakukan dengan meminta izin dari coachee agar kebuntuannya terbuka melalui pengalaman yang kita miliki.

Demikian Koneksi Antar Materi yang dapat saya sajikan pada artikel ini. Semoga bermanfaat. Terima kasih.